Bergumul Bersama Allah
Salom teman-teman.
Beberapa waktu terakhir ini, banyak orang dilanda rasa takut karena semakin banyaknya pergumulan, masalah yang dihadapi. Bergumul dengan masalah ekonomi, masalah pendidikan, kehilangan pekerjaan, bergumul mengenai masalah keluarga, kesehatan dan lain sebagainya. Di beberapa tempat di negeri ini bahkan seluruh dunia merasa tidak nyaman berada di luar rumah. Badai Covid-19 belum selesai, kita harus diperhadapkan dengan varian baru dari virus corona yang berdasarkan informasi yang beredar, proses penularannya lebih cepat dari Covid-19 sehingga pemerintah secara khusus mengambil langkah-langkah yang bertujuan agar penyebaran virus segera berakhir. Hal ini membuat banyak orang menjadi semakin cemas dan di dera ketakutan.
Menurut kamus Bahasa Indonesia, takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana; takwa, segan dan hormat; tidak berani (berbuat, menempuh, menderita dan sebagainya) ; gelisah, kuatir. Rasa takut yang berlebihan dan terjadi terus menerus terhadap suatu hal dapat menjadi penyakit yang disebut fobia.
Ayub dalam ayat renungan kita hari ini menyadari bahwa karena ketakutan yang ia percayai itulah yang terjadi pada dirinya dan apa yang ia cemaskan, hal itulah yang menimpa kehidupannya. Perasaan takut dan cemas bagi seseorang adalah sesuatu yang wajar, namun sebagai orang percaya kepada Tuhan, kita tidak perlu takut dan cemas secara berlebihan. Sama seperti Ayub, ketika kita mempercayai ketakutan kita, maka justru hal itulah yang akan menimpa kehidupan kita. Ketakutan yang terjadi terus menerus tidak akan membuat kita mampu menyelesaikan pergumulan dan masalah justru akan semakin melemahkan jiwa bahkan iman kita sehingga kita akan semakin terpuruk dengan keadaan dan tidak mampu menyelesaikan pergumulan yang dihadapi.
Kita mengimani bahwa kita memiliki pengharapan yang sejati di dalam Allah. Pengharapan kita kepada-Nya seperti sauh yang kuat dan aman bagi orang yang melakukan perjalanan pelayaran(Ibrani 6:19). Sauh sangat kecil jika dibandingkan dengan kapal yang begitu besar namun ketika sauh diturunkan maka sauh dapat menahan kapal sehingga tidak terbawa arus bahkan ketika ombak menerpa. Demikian juga dengan pengharapan kita kepada Allah. Pengharapan kepada Allah membuat kita dapat bertahan di tengah-tengah badai kehidupan yang tidak dapat kita duga kapan akan menimpa. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa ketika kita hidup benar, percaya sungguh-sungguh bahkan tetap setia kepada-Nya maka kesulitan dan masalah tidak akan menimpa kita namun firman-Nya meneguhkan iman kita bahwa Dia adalah tempat perlindungan dan kekuatan, penolong dalam kesesakan (Mazmur 46:2). Oleh karena itu sebesar apapun badai hidup, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan karena kita percaya Tuhan dalam pimpinan Roh Kudus akan senantiasa bersama kita, menolong dan menopang serta menguatkan menghadapi kehidupan di tengah-tengah dunia ini.
Tuhan memberkati kita semua.Amin
Tetap jaga kesehatan teman-teman dan selalu mengikuti protokol kesehatan
l_alone

Komentar
Posting Komentar